[Ficlet] a Casual Talk

a Casual Talk

2017 © zero404error

17’s Kim Mingyu & Xu Minghao

Ficlet (±1000 words) || PG || AU, Slice of life, Surrealism, Friendship, slight!Angst

.

Based on this prompt:

.

“Aku menyukai versi jam tiga pagi manusia. Begitu rentan; mudah terluka. Jujur. Nyata.”

Xu Minghao menjeling, menatapku dari ekor matanya yang meruncing. Dia duduk di atas kasurku–kasur kami maksudnya (sudah bertahun-tahun semua barangku ataupun miliknya berubah menjadi milik kami berdua), bersandar pada dinding kamar, begitu pula denganku. Dini hari menjelang pagi ini sama seperti dini-dini hari sebelumnya: kami saling berbagi kisah, saling berkomentar, mungkin sedikit pertentangan, tetapi tidak sampai menimbulkan pertengkaran.

Aku balas menatapnya, tetapi tidak berusaha menjawab ataupun menyela. Jam tiga pagi adalah waktu miliknya, jadi kubiarkan dia mengungkapkan apa pun yang ingin ia bilang dan jadi pendengar setia.

“Pernah terpikir untuk bunuh diri?”

Aku menggeleng. Jujur, ide bunuh diri terdengar begitu menyeramkan untukku. Umurku belum genap empat belas dan gagasan mati (apalagi mengakhiri hidup dengan tangan sendiri) terasa begitu jauh dan asing. Rasanya seperti menyelam ke dalam rawa gelap yang tidak pernah kaucapai dasarnya. Pun, jika dipikir-pikir, aku tidak pernah benar-benar mengenal apa itu kematian, atau bersinggungan langsung dengan hal-hal semacam itu. Hidupku juga tidak bisa dibilang tidak bahagia (meski di beberapa kasus aku kadang merasa kesalahanku begitu memalukan dan sungguh berat untuk menghadapi tatap semua orang–tapi, hey, bukankah semua orang punya sisi semacam itu?). Tidak ada kesedihan mutlak dan tidak ada kebahagiaan absolut. Kurasa hidupku sama biasanya dengan semua anak panti asuhan lainnya. Beberapa ditinggalkan, beberapa menunggu jemputan, dan semuanya saling melindungi satu sama lain. Bunuh diri? Sampai saat ini aku tidak tahu alasan mengapa orang-orang lebih memilih mengakhiri hidup mereka sendiri ketimbang menikmati apa yang bisa mereka jalani.

“Aku sering.” Xu Minghao menyahut kembali, aku menengok ke arahnya, mengernyit sedikit tanda tanya.

“Di masa lalu,” lanjutnya–lirih, seperti suara desir angin yang sekadar lewat tanpa benar-benar punya maksud bertandang. Aku melihat kesedihan yang begitu jauh di ujung tatapannya. Sebuah melankolia masa lalu. Kenangan-kenangan yang tidak pernah bisa kuraih kecuali dia yang mengisahkannya sendiri padaku.

“Kalau sekarang?”

Dia mengangkat alis. “Menurutmu?”

Aku meringis.

Salahku. Tentu saja Minghao tidak akan pernah berpikiran untuk bunuh diri lagi sejak saat itu. Dia ada di sini saat ini. Bukti itu sudah lebih dari cukup. Dia ada di sampingku. Dia ada. Dia nyata.

“Kuharap ada yang berusaha mencegahku saat itu.”

“Lalu? Ada?”

Minghao mengangkat bahu, mengembus napas. Udara terasa lebih dingin dan aku menaikkan selimut hingga dagu. “Tidak ada yang cukup luang untuk memerhatikan satu orang bocah kesepian yang dalam pikirannya selalu berkeliaran keinginan untuk tenggelam dan begitu terobsesi naik ke tiang gantungan, Ming. Semua orang sibuk melihat apa yang menarik perhatian mereka, bukan eksistensi yang menganggu sepertiku.”

“Itu menyedihkan.”

“Itu sudah berlalu.”

“Tapi kau tetap mengingatnya.”

“Kau tidak bisa semudah itu melupakan kegelapan yang selalu menyertaimu. Bahkan meski setelah tahun-tahun berlalu begitu saja, Ming. Keinginan gila semacam itu bukan sesuatu yang bisa hilang sekejap mata. Kau bahkan tidak perlu menjadi orang paling tidak beruntung di dunia untuk memilikinya. Keinginan itu terselip begitu saja dalam hati, mencoba memperluas wilayah jajahannya, dan, yah, kautahu apa yang terjadi pada mereka yang menyerah.”

“Dan kau termasuk yang berhasil melawan.”

“Aku mati sebelum sempat melakukan percobaan bunuh diri.”

“Ah.” Kutelan kembali kalimat-kalimat yang sempat bergulung-gulung di ujung lidah.

“Wabah penyakit mematikan. Merenggut hampir seluruh populasi kota. Sudah pernah kuceritakan, kan?”

“Sori. Lupa.” Sementara otakku mencoba merekonstruksi fraksi-fraksi ingatan itu kembali, mataku meraih langit-langit gelap yang hanya mendapat sedikit penerangan dari lampu-lampu jalan yang masih menyala di luar. Bisa kubayangkan bagaimana sebelumnya bocah laki-laki itu menghabiskan waktu terakhirnya di sini. Di bawah naungan langit-langit tinggi dan kegelapan yang mengisap nalar. Di antara rintih kesakitan teman-teman yang terbaring di dipan-dipan kayu yang berjajar. Bau obat dan aroma pekat kematian. Rasa putus asa dan ketakutan.

Waktu memang mengubah penampilan tempat ini, tapi bakatku–dan banyak bocoran dari Minghao membuatku cukup mengerti apa yang pernah terjadi. Ada banyak wajah yang kadang berseliweran setiap kali aku memejam mata, dan ada banyak bayang-bayang gelap yang bersembunyi di sudut-sudut ruang, menunggu untuk ditemukan. Mereka terkadang bicara, bercerita, dan seperti pada kasus Minghao, aku hanya menjadi pendengar setia. Aku lebih suka mendengar ketimbang berbicara.

“Jadi … apa kau menyesalinya sekarang?” Aku bertanya. Dia menengok ke arahku. Lamat-lamat kudengar ringkik kuda dari ujung jalan. Jeda sejemang. Pagi menjelang.

“Kalau kau bertanya apa aku menyesal tidak jadi bunuh diri, Ming, maka jawabannya tidak.” Dia menggeleng. “Aku melihat begitu banyak kesedihan dari orang-orang yang ditinggalkan. Dan itu jenis kesedihan yang menyakitkan. Bukan sesuatu yg ingin kulihat dari wajah orang-orang yang kusayangi.”

“Yah, pada akhirnya, orang-orang yg berpikiran sepertiku di masa lalu, beberapa hanya butuh uluran tangan yang tepat di saat yang tepat. Kami butuh seseorang yang mencoba mengerti tanpa menghakimi. Hanya karena mereka tidak mengalami hal yang serupa, bukan berarti itu selalu dusta. Bahkan meski lamat-lamat, mungkin saja itu adalah sebuah teriakan untuk mencari seorang penyelamat. Sayangnya, terkadang, lebih sering, semua datang terlambat.”

“Kau tahu, perkataanmu kadang terlalu berat untuk dicerna anak seumurku,” sahutku jujur.

“Oh, kau akan memahaminya kalau sudah seumuran denganku.”

“Selisih umur kita satu abad lebih, Hao. Perawakanmu saja yang seperti remaja tanggung.”

“Kau bisa bilang aku awet muda.”

“Kau sudah mati, lebih tepatnya.”

Well–“

“Kim Mingyu ….”

Minghao menghentikan kalimatnya. Erangan lirih terdengar dari tempat tidur di sampingku. Ada gerakan mengucek mata dan kata-kata bercampur kuap setelahnya.

“Berhentilah berbicara sendiri. Ini masih jam tiga pagi ….”

Kukecilkan volume suaraku dan berbisik, “Sori.” Suara mengerang lagi–yang kuanggap sebagai jawaban dan tak lama kemudian dengkuran keras kembali menerjang keheningan. Kurasa, obrolan malam sudah saatnya dihentikan.

Hey,” panggil Minghao.

“Hm?” Aku meliriknya.

“Terima kasih karena sudah begitu baik dalam mendengarkan seluruh keluh kesahku.” Bayangan Minghao mengabur. “Terima kasih.” Dia tersenyum, “Sudah membuatku merasa nyata.”

“Tidak masalah.” Aku meraih selimutku dan mencari posisi akhir yg paling nyaman sebelum kembali meringkuk di atas dipan.

“Lain kali, akan kuceritakan kisah bahagia.” Samar-samar masih kudengar ia bicara.

“Akan kutunggu saat itu tiba.” Aku memejamkan mata.

“Selamat malam, Ming.”

“Selamat pagi, Hao.”

–fin.

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] a Casual Talk

  1. Mak eee teganya kau menjadikan minghao korban wabah yg sblmnya mau bunuh diri… ;-; uhuk mana duoming anak akika lagi yg dijadiin cast haish
    Bagus ceritanya saya baperrrrr
    Keep writing!

    1. Wahahaa, ampun li 😂, habis daripada minghao bunuh diri mending dibunuh duluan/g/

      Ini lagi belajar kembali menuliskan slice of life, huhuu, karatan rasanya tulisanku ;_;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s