[Vignette] Unfinished Business

Unfinished Business

zero404error © 2017

17’s Yoon Jeonghan & OC’s Lee Mary

Vignette || PG || AU, slight!action, fluff, slight!romance, cheesy, crack

originally posted @ svtffi

.

Ada jalinan yang entah mereka akui atau tidak, turut mencampuri lika-liku bisnis kecil mereka.
.

“Kubilang tembak kepalanya, bukan vas bunga di sebelahnya!” Lee Mary mendesis, menahan teriakannya tetap di kerongkongan sementara kedua tungkainya dipacu lekas-lekas, melewati anak-anak tangga yang seakan tidak ada habisnya menuju lantai dasar. Ransel gelap yang ia cangklong di sebelah bahu berguncang sejumlah undakan yang sudah dilewatinya. Ransel itu ringan, hanya berisi senapan sniper yang sudah ia bongkar susunannya supaya tidak terlalu makan tempat dan kentara. Dua pelurunya sudah hilang, satu menembus kepala Pak Walikota, satu lagi menembus dada anak semata wayangnya. Sekarang, senjata itu tak lebih dari barang bukti yang keberadaannya tidak boleh sampai ketahuan.

“Sori, tidak sengaja. Ada masalah kecil dengan senjataku.” Suara santai seorang lelaki menyahut desisan Mary dari alat komunikasi yang ia pasang di lubang telinga. “Tapi kau sudah membereskannya, kan?”

Lee Mary mendengus. “Beres, tapi kacau.” Ditengoknya keadaan sekitar sebelum memutuskan cukup aman untuk keluar dari gedung tua tempatnya berada. Ada satu gelandangan yang tertidur berselimut koran di emper gedung sebelah, dua ekor kucing yang tengah menggeram satu sama lain, satu kucing lain yang mengaduk-aduk tempat sampah, sekelebatan tikus besar, dan selain semua itu, gang kumuh itu cukup lengang.

“Kurasa ada yang melihat kilatan lensa teropongku.” Pintu yang berkarat berderit cukup keras ketika Mary membukanya. Hati-hati, dia melangkah senatural mungkin menelusuri gang, selayaknya turis yang sedang menjelajah sudut perkotaan. “Tidak butuh waktu lama sebelum mereka sampai di sini dan lebih bijaksana jika kita mencari jalan sendiri-sendiri. Kau di mana?”

“Aku di belakang–wow, santai Lee Mary!” Gerakan refleks Mary nyaris lebih cepat dari uluran tangan si pria-di-alat-komunikasi ke bahunya. Pria itu mengerang, tangannya yang dipelintir oleh si gadis hampir tertekuk ke arah yang tidak seharusnya. Beruntung, tidak sampai ada acara banting-membanting ataupun lempar ke udara mengingat gadis ini memiliki sertifikat khusus dalam beberapa materi bela diri.

Mary melepas cengkeramannya. “Yoon Jeonghan? Apa yang kaulakukan?! Bukankah kita sudah sepakat–“

“Sendiri-sendiri memang lebih aman, tapi tidakkah berdua menurutmu lebih nyaman? Aku bisa melindungimu dan kau bisa sepuasnya melihat wajah tampanku.” Lee Mary mendelik, mulutnya menganga hendak menyangkal, tetapi celoteh Jeonghan terbukti lebih akas. “Dan sepasang turis yang sedang berkencan lantas kesasar tidak lebih mencurigakan dari seorang gadis yang berkeliaran sendirian di gang-gang kumuh tanpa teman.”

Mary mengatupkan mulutnya kembali, menelan ludah, pun lontaran argumen yang belum sempat terujar. Apa yang dikatakan pemuda narsis di hadapannya ini cukup masuk akal. Well, dia dan Yoon Jeonghan jelas tidak terlihat seperti penduduk lokal Distrik Sembilan. Kebanyakan dari penghuni Distrik Sembilan memiliki mata pencaharian sebagai pengusaha atau pegawai kantoran, berambut pirang dan berpakaian formal ke mana pun mereka pergi. Mary dan Jeonghan, dengan surai gelap dan pakaian berbunga-bunga ala musim semi yang mereka pakai di musim panas beserta tas butut yang mereka cangklong jelas terlihat cukup mencolok kalau sendirian. Oke, berdua juga, tapi setidaknya kalau berdua mereka bisa memiliki lebih banyak alasan yang bisa dipikirkan.

“Datanya sudah kau bakar?”

“Beres. Aku sudah menyingkirkan semuanya. Tinggal senapan.” Jeonghan menepuk-nepuk tas ranselnya yang kelihatan cukup lusuh, seakan tidak pernah dicuci berbulan-bulan–dan memang itu kenyataannya. Mary mengenali tas itu sebagai hadiah darinya tiga tahun silam; saat mereka pertama kali bertemu dan diharuskan bekerja sama untuk menghindari kecurigaan aparatur Distrik Pusat. Mereka berpura-pura menjadi sepasang kekasih–klise (seperti juga hari ini) demi menghindari pertanyaan memusingkan tentang apa yang mereka lakukan di sebuah kafe yang kebetulan menjadi tempat terbunuhnya salah seorang putra Perdana Menteri. Kebetulan Mary yang menyisipkan racun di es batunya, kebetulan Jeonghan yang mengoleskan racun lain di gelasnya, dan kebetulan juga mereka berhasil lolos dengan tipu muslihat mereka dan kepura-puraan akan kendala bahasa.

“Kalau kita sampai tertangkap, mati kau Jung.” Mary mencebik, menjelingkan sepasang manik bulatnya ke arah Jeonghan. Mereka berbelok di sebuah persimpangan, melewati beberapa got bau sebelum akhirnya berhasil keluar ke jalan utama. Sirene terdengar berkoar-koar sepanjang jalan. Polisi dan ambulans. Mary hanya berharap tidak seorang pun berhasil menyusul jejak mereka–setidaknya sampai mereka keluar dari distrik ini dan memakai identitas lain di tempat lain.

“Sayangnya Nona Lee Mary ….” Jeonghan tersenyum, menyejajarkan langkah dengan si gadis, menyela kewaspadaannya dan membuat Mary mau tidak mau lantas berpaling. Seorang petugas keamanan terlihat di depan dan Jeonghan mengaitkan lengannya ke lengan Mary, mereka berjalan bersisian, berusaha tampak seperti pasangan normal. “Kalau kita berdua tertangkap, kita sama-sama mati. Dan kalau kupikir-pikir itu cukup romantis sebagai akhir kisah manis kita. Bagaimana? Apa kita sukarela menyerahkan diri saja?”

Lee Mary mendengus kasar, memutar bola matanya hingga kembali ke posisi paling normal. Dia sudah terlalu kebal dengan obrolan semacam ini dari Yoon Jeonghan. Dia bahkan tidak tahu lagi bagian mana yang harus dia anggap serius dan bagian mana yang harusnya dia anggap serpih sambil lalu.

“Kau sendiri saja, Jung. Tidak usah bawa-bawa aku. Aku agen bebas, tidak terikat. Kebetulan saja kita mendapat klien yang sama, kita sudah kenal lama, dan kita terpaksa harus bekerja sama–lagi.” Mary menyodok rusuk Jeonghan dengan sikunya begitu situasi terkendali.

Jeonghan meringis. “Well. Aku tidak berusaha mengikatmu, Mary, hanya memberimu sebuah cincin, di jari manis.”

“Katakan saja itu lain kali, bukan di situasi seperti ini.”

“Apa itu artinya kau akan menerimaku kalau kita bisa keluar dari situasi ini?”

“Berhentilah bercanda, Jung–awas!”

Mary menarik lengan Jeonghan tepat sebelum sepasang roda sepeda yang dikayuh secara brutal menyentuh ujung kemeja katunnya. Jeonghan sedikit kehilangan keseimbangan dan Mary menangkapnya sebelum pria itu sempat jatuh. Pengendara sepeda yang melaju itu mengumpat, memaki tentang bagaimana turis seringkali tidak memperhatikan jalan ketika menyeberang di persimpangan dan beberapa makian lain, tetapi dunia yang diselami Mary dan Jeonghan berada terlalu jauh bahkan untuk sekadar mendapati gemanya. Jika ada satu waktu ketika dunia hanya milik dua pasang mata yang saling menyimpan figur masing-masing dalam pantulannya dan jarum-jarum penanda waktu berhenti berputar untuk memberi kesempatan pada dua insan manusia, mungkin inilah saatnya–

“Nona, haruskah kau memeluk Paman itu seerat itu?”

–atau tidak sama sekali. Mary mengerjap, Jeonghan berkedip. Kedua tatap mereka berpindah ke seorang bocah kecil perawakan Sekolah Dasar yang sibuk memegang es krim setengah meleleh di satu tangan. Bocah itu balas memandang mereka berdua tanpa isi pikiran yang bisa dijabarkan. Ada suara kelotak benda terjatuh dari punggung Mary. Salah satu rakitan senapannya meluncur bebas dari ritsleting yang terbuka sebagian.

“Apa itu …”

Kini bukan hanya anak itu yang menatapnya, hampir semua warga di jalan berhenti untuk menatap mereka.

“Ah! Tunggu! Tidak, kalian salah paham, maksudku–

Lee Mary melepas cengkeraman tangannya di pinggang Jeonghan secepat yang ia bisa. Diambilnya ceceran barang miliknya dan memasukkannya perlahan kembali ke ransel.

–ini hanya senapan mainan, lihat? Tidak berbahaya sama sekali, tidak melukai, dan–“

“Ada yang bawa senjata!”

“Cepat panggil polisi!”

“Keamanan!”

Tch. Sial! Mereka bahkan tidak bisa diam sebentar untuk mendengarkan penjelasan Mary. Warga sipil mungkin tidak berbahaya karena tidak satu pun dari mereka punya senjata, tapi alat komunikasi di tangan merekalah yang berbahaya. Mary pikir, tidak butuh waktu lama sebelum wajah mereka hari ini tersebar bebas di media sosial dan polisi menuju ke arah mereka.

“Kurasa ini waktu yang tepat untuk lari.” Jeonghan berbisik, menempelkan punggungnya pada Mary sekaligus meminimalisir bagian wajah yang mampu tersorot kamera ponsel.

“Kau benar, tidak ada gunanya lagi menyamar.” Lee Mary melakukan hal yang sama, mengambil satu napas pendek. “Ada pesan terakhir?”

“Kurasa satu saja cukup” Jeonghan berpikir sejenak. “Kau lebih manis ketika salah tingkah, Lee Mary.”

Ah ya, dan biarkan saja kupu-kupu di perut Mary beterbangan kesana-kemari walau bukan hari ini. “Katakan lagi saja nanti kalau kita masih hidup setelah ini, Jung.”

Mereka saling melirik satu sama lain, tersenyum, lantas memacu tungkai lebar-lebar, melompati marka jalan. Campuran suara klakson, roda yang berdecit, teriakan, umpatan dan peringatan bercampur ketika mereka dengan nekat menyeberang jalan, menyeruak kerumunan lain di seberang dan melanjutkan pelarian.

Masalah apakah mereka masih hidup setelah ini, itu urusan nanti. Setidaknya, mereka tahu apa yang sebenarnya terlintas di hati. Dan sejak awal mereka memilih bisnis ini, mereka tahu bahwa tidak ada hal yang lebih pasti selain kata mati.

~fin.

based on this prompt; found @pinterest

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s