[Ficlet – Series] The Dark Lullabies – Hands of Time

picsart_12-26-02.43.44.jpg

Siapa bilang lagu-lagu pengantar tidur selalu berisikan cerita manis dan menghibur?

zero404error © 2017

The Dark Lullabies Series

-Hands of Time-

17’s Jeon Wonwoo

Ficlet (±750 words) || PG 15 || AU, Angst, slight!DarkFantasy, Family

Previously

Autumn’s Soul || The Witch’s Fault || Wars and Scars || The Devil

Also related to :

Sehnsucht

.

Saat itu sedang badai salju, dan dia meleset beberapa meter dari lokasi tujuannya; cukup kepayahan mengatur langkahnya yang terhambat gunungan bunga es setebal lebih dari dua kali mata kaki.

Dari sekian fakta dan kemungkinan yang sudah Wonwoo pelajari, hanya itu satu-satunya yang lupa untuk ia tanggapi sebelum memutuskan perjalanan lintas waktunya kali ini. Jeon Wonwoo harus merapatkan pakaiannya yang (sungguh sayang) kurang begitu bersahabat dengan cuaca hari itu lantas mengeratkan kedua giginya yang bergemeletuk suapaya lidahnya (dan seluruh badannya tentu saja) tidak sampai beku sebelum misi yang ia emban berhasil terlaksana. Menjadi seorang pelintas waktu, sekaligus penjaga aliran waktu, tidak lantas memberinya kekuatan atau tubuh super layaknya super hero di buku-buku komik yang pernah ia baca di masa depan. Dia tetap saja manusia biasa, kadang sakit, kadang berpikir mungkin lima menit lagi akan binasa, dan tentu saja, merasakan kesulitan yang sama seperti makhluk biasa lainnya.

Kalau saja tekadnya tidak cukup kuat, ia akan dengan senang hati bertolak ke masa depan sekarang juga, berharap segala angan dan harapan tergelapnya turut menghilang dalam lorong gelap waktu, padam tanpa pernah lagi menyala. Namun, dia tahu itu sia-sia. Entah sudah berapa tahun yang ia coba untuk mengenyahkan ide gila itu, tetapi lagi dan lagi pemikiran itu terus melahap kewarasannya.

“Kau sudah gila, Nak.”

Satu dari jutaan respons yang sama kembali menggerayangi ingatannya. Dia melakukan cukup banyak percakapan dengan orang-orang mabuk di bar (baik masa depan ataupun masa lalu) tentang keinginannya untuk merubah masa lampau (salah satu kelebihan bicara dengan orang yang mabuk berat adalah mereka tidak akan benar-benar ingat apa yang mereka bicarakan malam itu, bahkan jika Wonwoo bilang dia adalah Pengendali Waktu).

“Maksudku, perjalanan melintas waktu yang kauceritakan saja sudah cukup gila. Tapi misi itu–wah, kurasa kau sudah tidak waras.”

Ia mengingat kembali gelas bir ketiga belas yang ditengguk pria tua itu sembari mengembuskan napas hangat ke sepasang tangannya, berharap bahwa wajah ramah pria tua itu dan kenangan akan suasana bar yang temaram tetapi hangat cukup berhasil membantunya mendapatkan kesan nyaman yang sama. Dia terlampau resah saat ini, terutama saat kedua tungkainya akhirnya mencapai tempat yang ditujunya: sebuah rumah besar di tengah lahan yang terpencil.

Tidak terlalu sulit baginya untuk menyusup ke dalam rumah itu. Ia mengetahui lebih banyak jalan rahasia di setiap sudutnya lebih dari siapa pun, bahkan pemilik rumahnya saat ini sekali pun. Dan dia juga tahu bahwa bayi itu akan ada di sana, si bayi pembawa petaka, tanpa penjaga, hanya lelap kedua orang tua dan saudaranya di kamar yang berbeda.

Bayi itu terjaga; terjaga dan menatapnya, begitu polos dan tanpa dosa. Belum ada yang tahu petaka macam apa yang akan diakibatkannya ke keluarganya. Belum ada; tapi Wonwoo tahu. Ia tahu, tidak akan ada kebahagiaan di sana.

Untuk terakhir kali, Wonwoo menatap bayi tak berdosa itu–yang mata beningnya kini balas menatap Wonwoo. Sebuah kikik kecil lolos dari bibir bayi itu, membawa sedikit ceceran ingatan pertamanya kembali ke benak. Ia ingat pernah tertawa bahagia seperti itu, begitu lugu, melompat di punggung kakak perempuannya lantas berlari berkeliling lapangan berdua, menganggap bahwa luasnya dunia setara dengan pijak-pijak kaki kecil mereka. Namun, masa depan tidak sesederhana gelak tawa mereka. Hanya boleh ada satu Penjaga Waktu dalam generasi mereka, bahkan meski ada sepasang yang memiliki kekuatan yang sama. Bakat itu muncul begitu saja ketika mereka dewasa, ketika Sang Waktu yang sedang berkuasa mati dan mencari penggantinya. Ia dan kakaknya. Ia dan seorang gadis yang pernah hidup dalam suka cita bersama. Ia dan harapan-harapan yang layu di tengah jalan. Ia dan seorang gadis yang kini mati karena Sang Waktu lebih memilihnya.

“Jangan pernah menyesal karena kematianku, Wonwoo-a.”

Namun, Wonwoo terlanjur menyesali semuanya, bahkan kalimat terakhir kakaknya, yang dipulas senyum terus menggerogoti jiwanya bagai racun. Ia hanya butuh merenggut segala sisa napas si bayi saat ini juga. Ia hanya perlu menghentikan detak yang sama juga membuatnya masih ada di sana. Ia bisa menyelamatkan lebih dari satu jiwa dengan kematiannya.

“Kau tidak serius akan melakukan itu jika bisa kembali ke masa lalu, kan, Nak?”

Lagi-lagi Wonwoo mengingat percakapan terakhirnya dengan Si Pak Tua. Pak Tua yang baik, yang Wonwoo rasa hidupnya akan lebih baik jika tidak pernah bertemu dengannya.

“Itu misi bunuh diri! Maksudku–

Wonwoo membulatkan tekad.

–benar-benar misi bunuh diri.”

Ia lantas tersenyum pincang, atas nama kebaikan, juga kejahatan terbesar yang akan dilakukannya. Dibisikkannya lagu pengantar tidur terakhir pada cikal masa lalu, masa kini dan masa depannya.

“Selamat tinggal, Jeon Wonwoo.”

~fin.

19f5d3a20f25996f7aaad91c3a941c4a.jpg

pic source : pinterest

unbetaed, maaf karena updatenya sangat terlambat ;_;

maippo

 

Advertisements

5 thoughts on “[Ficlet – Series] The Dark Lullabies – Hands of Time

  1. Tumben wonu jadi karakter rada2 mellow haha
    Tapi
    SUKA IDENYAAAA ya biar ketebak dikit sih di awal tapi ttp keren bgt XD kepikir ya. Dan biar ga ada label surreal ttp ada surreal2 nya dikit hehehehe
    Keep writing!

    1. Wkwkwkw aku sudah menyerah dengan twist liii XD, sudahlah biar ngalir aja orz… (ya bilang aja kamu males mikir mak) Aku galau tadi mau kukasih label surealisme enggak ;_;

      Entah kenapa jatuhnya wonu melow2 galau kalau sudah di tanganku wkwkwkw

      Makasih udah baca XD

  2. Kaaaakk suka banget ini!!!

    Dari awal kukira genrenya fantasi doang kan soalnya si wonu bisa menjelajah waktu gitu..terus alurnya berjalan ngasih clue kalo dia lagi menjalankan misi.. terus terus pas dia ke rumahnya yg lama mulai nebak nih siapa dia sebenernya. Eehh taunya beneran bayi yang mau dia bunuh itu dirinya sendiri huhuhuhu

    Kulihat ada typo merubah kan seharusnya mengubuah ya? Selain itu ini keureen!! Keep writing kak! ♥

    1. titaaaaaa, haiii, kemarin aku mau baca ficmu yang inspired by defendant tapi belom sempeeet ;_;

      ehehehe, makasih udah sukaaa >< itu typo sama salah tanda bacanya masih banyak ta ;_; aku kemaren belum betain bener2 huhu, makasih buat koreksinya, inshaaAllah aku benerin kapan2 ❤

      kip writing juga buat kamu taaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s