The Draft and The Truth

tumblr_okoe19h3wz1t9n75fo1_1280.jpg

tumblr_okrrrepswx1t9n75fo1_1280.jpg

17’s Jeonghan; 17’s Jun; mention of OC’s Mary

.

Ficlet | G | AU, College Life, Crack

.

“Hanya saja …”

.

Cemburu, amarah, dendam. Bahkan, ketiga kata itu saja belum cukup ringkas untuk menggambarkan isi hati Sang Pemuda ataupun langkah-langkahnya yang penuh kehati-hatian menyeberangi selasar mewah rumah Sang Bangsawan, lantas menyelinap masuk lewat jendela yang sengaja tidak dikuncinya siang tadi. Bulir-bulir sisa air hujan yang meresap dibajunya menetes-netes di sepanjang karpet, meninggalkan noda gelap di pekatnya merah yang melekat di atas marmer. Merah, merah, merah. Seluruh selasar maupun koridor penuh dengan warna merah.

Sudah terkenal di seantero distrik bahwa Sang Bangsawan begitu suka warna merah, sehingga ia mendekorasi hampir semua kediamannya dengan warna merah hati di sana, merah mawar di sini, juga merah tomat di lain sisi. Bahkan baju tidurnya (yang digosipkan terbuat dari kain sutera terbagus dan termahal yang dipesan jauh di kota besar sana) berwarna merah muda dan bersulamkan motif bunga. Menggelikan, membuat mual, sekaligus semakin memicu rasa jijik tanpa alasan bagi Sang Pemuda. Walau sejujurnya, apapun yang dikenakan Sang Bangsawan sama saja. Sentimen pribadi Sang Pemuda. Berpakaian segagah apapun, tidak akan mengubah cara pandang pemuda itu tentang betapa senangnya ia kalau Sang Bangsawan bisa lenyap begitu saja tanpa perlu warna merah yang lain jadi penghias malam terakhirnya.

Kedinginan dan ingin semuanya lekas selesai, dia bergegas, menuju perpustakaan seperti yang ia rencanakan jauh hari sebelumnya.

Bukan masalah besar baginya untuk menghindari segala macam penjagaan. Ia sudah bekerja di sini bertahun-tahun. Sudah cukup hapal dengan seluk beluk rahasianya, juga sudah cukup muak untuk bertahan lebih lama. Pun, dia juga tidak peduli kalau sampai diadili sehabis ini. Hukuman mati atau penjara baginya kelihatan jauh lebih baik ketimbang menyimpan sakit hati atas hubungan yang dirangkai diam-diam antara kekasihnya dan Sang Bangsawan. Oh, tunggu, mereka tidak melakukannya diam-diam. Sang Gadis terang-terangan mencampakkannya dan bilang lebih memilih Sang Bangsawan, si pemuda pecinta sutera bermotif bunga-bunga, cih!

Pintu perpustakaan berderit lirih ketika ia membukanya pelan-pelan, tampak mengusik Sang Bangsawan dari ucapan “Siapa?” yang didengar Sang Pemuda sejurus kemudian–tepat ketika ia melesakkan diri dalam bayang-bayang, membiarkan lentera Sang Bangsawan memindai ruang kosong di depan pintu. Sang Pemuda mendengar langkah halus menuju ke arahnya. Ia bersiap, menyelinap di antara rak-rak buku.

“Ada orang di sana?”

Sang Pemuda menyiapkan pisaunya.

“Siap–“

Semua yang terjadi selanjutnya begitu cepat. Sang Bangsawan yang begitu kaget dengan keberadaan seorang manusia di ruang pribadinya tidak sempat menghindar sementara Sang Pemuda melompat, mengangkat pisaunya tinggi-tinggi–

“Tunggu, tunggu, tunggu.” Wen Junhui menukas, menyela kata per kata yang sempat dirangkai seorang Yoon Jeonghan, membuat naskah drama yang sedang dikisahkan langsung oleh si pembuatnya itu terpaksa berhenti di tengah jalan. Ia mencoba membuat kalimat simpulan paling sederhana dari berbagai pokok pikiran yang mengusik otaknya sejak awal. “Jadi, maksudmu …,” dahinya berkernyit, “aku mati lagi di drama kali ini?”

Yang ditanya–Yoon Jeonghan–tidak berusaha memberikan sanggahan–ataupun jawaban; hanya mengangkat alis, lantas mengangguk sekenanya. Respon normal ala Yoon Jeonghan ketika dia ditanyai dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya apa.

“Tidakkah terakhir kali aku juga mati?” protes Jun, mengingat kembali naskah terakhir di mana dia pada akhirnya harus digantung di depan umum karena membela hak-hak rakyat kecil dari kezaliman Sang Raja. Heran kenapa banyak sekali kisah pahlawan di abad pertengahan karangan Yoon Jeonghan yang berakhir dengan kepala dipenggal ataupun tiang gantungan. Yoon Jeonghan bilang dulu alasannya karena pahlawan yang meninggal itu akan lebih lekat dalam kenangan. Sekarang? Dia berperan sebagai pahlawan saja tidak.

“Semua orang pasti mati, Jun.”

Sungguh, Jun tidak bisa menerima alasan selemah ini. Jelas ada yang mencurigakan.

“Apa itu alasan yang sama sehingga karakterku harus memakai baju tidur merah muda?”

“Tidak. Saat ini aku sedang suka warna pink, itu saja.” Jeonghan menutup draft naskah dramanya yang terbaru dengan bosan, mengambil ancang-ancang seperti seorang pebasket yang hendak melempar bola ke ring; bedanya, bolanya berupa jilidan kertas sementara ring-nya adalah seonggok sofa tua.

“Tapi tidak harus kau beri motif bunga juga, kan?”

Jeonghan mengunci targetnya.

“Tidak, tapi kurasa akan lucu melihatmu dengan baju tidur bermotifkan bunga-bunga. Nah, kau lebih suka mawar, sakura atau–

“Sebenarnya kau ada dendam apa, sih, padaku?”

Suara kertas yang berserak menyesak setiap gendang telinga. Lemparan Jeonghan luput dan justru mengenai tumpukan kertas lain entah milik siapa. Jun memicingkan mata, mencoba mereka-reka isi kepala Jeonghan tetapi nihil hasilnya.

Please,” sahut Jeonghan, “untuk apa aku dendam padamu, Jun.” Jeonghan menengok ke arah Jun dengan santai. Senyum dan tatapannya jelas menyimpan sejuta rahasia walau Jun tidak tahu apa. “Hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Belakangan ini aku dan Mary susah bertemu karena dia terlalu sibuk mengerjakan proyek denganmu. Jadi sebagai balasan karena kau lebih sering bertemu Mary ketimbang aku, aku dengan senang hati memberimu peran itu. Bukan. Ini bukan balas dendam, ini hanya pelampia–“

Jeonghan menelan kembali serangkai kalimat yang sebenarnya menjerit-jerit ingin keluar dari hati. Alasannya begitu tidak bermutu dan Jeonghan rasa dia tidak ingin membuat orang lain tahu. Harga diri dan imaji seorang kakak tingkat penyabar yang tidak pernah menyimpan dendam bernama Yoon Jeonghan sedang dipertaruhkan. Dia tidak boleh sampai keceplosan. Apalagi yang di hadapannya Wen Junhui, informan sejuta umat yang kebetulan juga mengambil beberapa kelas yang sama dengan Lee Mary.

“Hanya saja apa?” tanya Jun yang sudah menanti-nanti jawaban, tetapi tidak lekas mendapat apa yang ia inginkan. Jeonghan membuka mulut, tampak akan mengatakan sesuatu, sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepala dan kembali berpaling.

“Tidak. Tidak jadi. Lupakan. Tidak penting.”

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan.”

“Tidak ada, kok. Sungguh. Nah, bagaimana kalau kita lanjutkan saja pembicaraan tadi, motif bunganya–“

“Jangan membelokkan pembicaraan!”

Jeonghan tidak merespon, tetap melanjutkan kicauannya tentang motif baju tidur sementara Jun juga melakukan kegiatan yang tak jauh berbeda: terus mengoceh dan menuntut jawaban yang benar dari Yoon Jeonghan. Dua nada, dua cerita. Sedikit jahil, tapi biarlah ini jadi rahasia Jeonghan sendiri saja untuk sementara. Sekali-sekali, mengerjai Jun cukup berguna juga untuk melegakan beban di hatinya.

~fin.

pic © as watermarked, fanart is mine

Tidak ada rencana untuk diposting di svtff ((uhuk)) hanya merandom karena sekian lama tidak menulis dan terlalu fokus menggambar walaupun bakat juga masih saja pas-pasan ;_;

Dark Lullabies masih proses entah sampai kapan yang semoga berarti secepatnya … orz

a small gif(t) for anyone who read this fic 🙂 ⬇

gifff.gif

Advertisements

2 thoughts on “The Draft and The Truth

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s