[Ficlet – Series] The Dark Lullabies – The Devil

picsart_12-26-02.43.44.jpg

Siapa bilang lagu-lagu pengantar tidur selalu berisikan cerita manis dan menghibur?

zero404error © 2017

The Dark Lullabies Series

-The Devil-

17’s Jun

Ficlet (±850 words) || PG 15+ || AU, DarkFantasy

Previously

Autumn’s Soul || The Witch’s Fault || Wars and Scars

already posted @svtffi

.

Gadis itu berlari, menembus rerimbunan semak dan rumpun berduri yang menutup hampir setiap celah hutan. Jubah gelapnya sudah terperca di sana-sini, berlubang, sobek oleh goresan-goresan ranting tajam yang juga melukai tubuhnya, menusuk-nusuk kulit dari lapisan luar kain yang dipakai. Dia masih terus berlari, mengumpat beberapa kali sembari mengutuk kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.

Gadis itu yakin sudah menusuk jantungnya tujuh kali sesuai instruksi. Pentagram yang ia buat juga tanpa cacat. Dia sudah memastikannya berkali-kali. Dia bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek apakah ada garis yang melenceng atau kurang tebal sehingga memungkinkan makhluk yang ia kurung keluar, dan jawabannya tentu tidak ada: semua sempurna–atau begitu yang ia pikirkan. Sampai makhluk itu, terbangun kembali dari meja altar yang sengaja gadis itu sediakan untuk memusnahkannya, dengan definisi utuh seutuh-utuhnya, bahkan tanpa bekas luka robek di dada. Padahal ia juga sudah menabur garam dan merapal semua jampi pemusnah setan tanpa cela.

Persetan dengan semua peraturan pemburu setan! Sekali lihat makhluk itu menyeringai di saat kebangkitannya, dia tahu ada yang tidak beres. Dia bukan setan yang biasanya ia musnahkan hanya dengan mantra sederhana. Dia berbeda, dan bukan dalam artian yang baik. Dia tahu bahwa dia harus segera lari, menjauh secepat mungkin dari makhluk itu. Ia melupakan begitu saja semua peralatan perlindungan diri dan koin-koin emas–ugh! Persetan pula dengan pundi-pundi uang yang harusnya sedang ia nikmati! Menerima pekerjaan ini saja sudah salah. Bertentangan dengan prinsip kemanusiaan sebenarnya, tetapi membiarkan makhluk itu membunuhi beberapa warga desa lagi terdengar lebih baik ketimbang kehilangan nyawanya sendiri.

Hutan begitu sepi. Entah karena cuaca cukup dingin belakangan yang membuat suasa lebih mencekam atau semua hewan memang memilih menghindar di semua jalan yang ia lewati. Suara hewan malam pun seakan-akan teredam. Bahkan nyaris tak ada suara selain langkah-langkahnya sendiri. Ini buruk. Dia merasakan firasat buruk. Jelas ada yang tidak beres.

“Percuma saja lari, Nona.”

Langkah gadis itu terhenti tiba-tiba. Terantuk akar yang melintang, ia terjerembab ke atas lumpur, mengotori bajunya dengan noda cokelat pekat dan bau dedaunan busuk. Dia mendongak, terhenyak.

Sedikit sinar bulan yang kebetulan menerobos masuk di antara dedaunan sudah cukup bagi sang gadis untuk mengenali siapa yang ia lihat saat ini. Pria itu berdiri di sana, dengan pakaian serba hitam yang berlubang di bagian dada, bekas pasak si gadis pernah mengoyaknya.

“Kau–“

Rangkaian nada tercekik menjadi satu-satunya untaian kata yang bisa diucap oleh sang gadis berikutnya. Ia nyaris tidak bisa bernapas, dicekik oleh kekuatan yang entah berasal dari mana. Susah payah ia mencoba bangkit meski akhirnya hanya mampu terduduk di atas kubangan lumpur, begitu lemah dan tanpa daya.

Lelaki itu mendengus, memupus jarak sejengkal demi sejengkal mendekati gadis itu. “Ck, ck, ck. Bukan ‘kau’, Nona,” tukasnya seraya bercangkung di hadapan si gadis dengan begitu santai sementara garis-garis rasa takut semakin kentara di rona pias si perempuan muda. Pupil gadis itu mengecil dan instingnya mengatakan bahwa ia tidak seharusnya diam dan gemetar di sana. Makhluk ini berbahaya.

“Aku punya nama.” Pria itu menyilangkan kedua tangannya ke lutut. Geligi putihnya dibingkai dengan seulas senyum. “Wen Junhui–,” Ia menyebut nama manusianya dengan bangga, “–atau setidaknya itu yang akan kupakai sampai ada nama yang lebih cocok lagi.”

Gadis itu meludah. Harga dirinya sebagai seorang pembasmi melarangnya untuk menunjukkan kelemahan meski sampai mati. Setidaknya, kalau memang lari tidak memungkinkan, dia akan mencoba mati sebagai seorang yang melawan. Toh, menyerah atau memberontak, dia tahu akhirnya bakal sama saja. Setan adalah makhluk licik yang janjinya berupa dusta.

“Kau tidak pantas untuk memakai nama itu.” Sang gadis mendesis dengan sisa suaranya, tersenyum mengejek.

“Sungguh?” Wen Junhui mengerutkan kedua alis. “Padahal aku cukup menyukainya.”

Pemuda itu mengerucutkan bibir sebelum tersenyum kembali. “Tapi jika menurutmu itu kurang bagus, mungkin aku akan menggantinya habis ini. Bagaimana kalau kuganti dengan namamu saja? Kau juga cukup cantik, jadi kurasa aku bisa memakai sosokmu sehabis ini. Aku belum pernah jadi wanita sebelumnya, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?”

“Pulanglah ke neraka!”

Gadis itu meludah sekali lagi, kali ini mengenai wajah rupawan sang pemuda. Wen Junhui mengelap wajahnya seakan itu hal yang biasa. Dia masih sempat terkikik beberapa saat.

“Kau tahu? Aku toleran pada banyak hal sebenarnya. Aku tidak membunuh kecuali terpaksa. Warga-warga desa yang mati itu bukan tanggung jawabku. Mereka saling bunuh sendiri waktu kuadu domba barang sedikit.”

“Aku sangat baik pada para pendosa dan cukup baik pada orang biasa. Tapi aku sangat benci seseorang yang tidak punya sopan santun. Misalnya saja seseorang yang menjebakku untuk masuk ke dalam pentagram pemusnahan lantas berusaha membunuhku di pertemuan pertama, kemudian begitu bersemangat meludahiku di pertemuan berikutnya.”

“Semua langkah kerjamu tadi sudah tepat sebenarnya, Nona.” Wen Junhui memasang tampang simpatik. “Kau hanya salah tentang satu hal ….”

Dia menyeringai, tipis. “Ritual biasa tidak mempan bagiku. Kau tahu kenapa?”

“Karena aku berbeda ….” Tangannya bergerak begitu cepat, nyaris tidak terlihat sementara mata si gadis lantas terbeliak: satu nama langsung memenuhi lobus pikirnya.

“Ib–“

Kata-kata gadis itu menguar, menggantung begitu saja tanpa pernah terlanjut selamanya. Rusuknya berkeretak, dagingnya koyak. Tatap kosongnya kini mengarah ke angkasa. Darah mengalir dari luka yang menganga. Tubuhnya jatuh. Jatuh ke dalam kehampaan malam tanpa suara. Satu orang tumbang, satu orang menyeringai senang.

“Kau benar.” Wen Junhui mengeratkan cengkeramannya pada benda berdetak yang kini di tangannya. Dia mengernyit jijik dan suara “pop” cukup keras memenuhi udara. Hanya tertinggal sisa warna merah pekat saja di tangan pucatnya. “Akulah Sang Iblis.

fin.

pic credit : The Innocence

Inspired by Supernatural Series & The Wailing (2016)

hitung-hitung mengabulkan keinginan Jun buat jadi tokoh antagonis (krik)

terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini 🙂

–Ma’ippo

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet – Series] The Dark Lullabies – The Devil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s