[Ficlet – Series] The Dark Lullabies – Wars and Scars

picsart_12-26-02.43.44.jpg

Siapa bilang lagu-lagu pengantar tidur selalu berisikan cerita manis dan menghibur?

zero404error © 2017

The Dark Lullabies Series

-Wars and Scars-

17’s Joshua

Ficlet (±850 words) || G || AU, slight!Dark, slight! Surrealism, Hurt/Comfort

Previously

Autumn’s Soul || The Witch’s Fault 

already posted @svtffi

.

Joshua selalu bisa melihat lebih banyak kematian daripada orang lain. Dia bisa merasakan kematian yang ada di dekatnya, kematian yang begitu jauh darinya, gaung kematian, juga kematian-kematian di masa lalu yang pendarnya masih enggan pudar dari ingatan. Kematian-kematian itu menariknya, mengarahkan langkah-langkahnya, pun memanggil-manggil namanya. Dan Josh, tidak pernah tidak bisa menolak ajakan mereka.

Joshua sudah hidup cukup lama untuk melihat begitu banyak hal yang melatarbelakangi pembenaran akan kematian: kekuasaan, rasisme, keberadaan yang tidak diinginkan, kesewenang-wenangan, pembalasan dendam, serta kasih sayang. Miris ketika alasan terakhir salah satu yang paling marak belakangan. Banyak orang membunuh orang lain dan dirinya sendiri atas dasar cinta kasih. Mereka bilang itu untuk kehidupan yang lebih baik, ketimbang terlalu banyak penderitaan di dunia, lebih baik memutus mata rantai itu dan meniti jalan menuju Surga. Masalah apakah pada akhirnya mereka mencapai Surga atau tidak, Josh rasa sebaiknya dia bungkam saja. Bukan wilayahnya untuk bicara, walau sesungguhnya ia tahu jawabannya.

Satu yang belum ia sebutkan dan menurutnya paling menyakitkan adalah perang. Dari jaman raja-raja terdahulu, ketika penyihir dan peramal masih dalam masa keemasannya hingga sekarang, ketika burung besi lebih diminati ketimbang camar sebagai penghias langit, tidak ada yang banyak berubah. Bertugas di berbagai medan perang, bertemu dengan salah satu sisi terburuk keserakahan manusia, membuatnya mengerti bahwa semua perang, di mana saja, pihak mana pun, hanyalah bentuk lain dari penghancuran masal.

Josh mengibaskan tangannya beberapa kali, menghalau debu-debu yang beterbangan di sekitar wajah. Ini medan perang kelima yang ia kunjungi hari ini. Semuanya sama: kehancuran yang sama, kesedihan yang sama, hanya nama-nama korban saja yang berbeda. Beberapa kali ia harus menyimpan empatinya rapat-rapat supaya tidak meluap ketika melewati setumpuk mayat–yang Josh tahu sengaja ditumpuk, diletakkan di pusat tanah lapang, dengan kondisi tidak terkatakan sebagai peringatan bagi mereka yang berani melawan. Kejam, tapi begitulah realita perang.

Josh harus tetap melanjutkan perjalanan apapun yang terjadi; beberapa kali harus memalingkan muka dan menggeretakkan gigi ketika melihat para tentara menyiksa perempuan dan anak-anak tanpa sedikit pun rasa kasihan terpancar dari mata mereka (sungguh, Josh sempat berharap bahwa kuasanya berlaku pada orang-orang ini, tapi sayang beribu sayang bukan begitu cara kerjanya). Dia berjalan. Api masih berkobar di beberapa sisi. Bangunan runtuh di sana sini. Lalu, di salah satu sudut yang cukup tersembunyi, akhirnya Josh menemukan apa yang ia cari.

Si gadis kecil bercangkung di depan reruntuhan, bekas jatuhan rudal semalam. Lututnya ditekuk dan sepasang tangan mungilnya ditumpukan ke tempurung lututnya yang kotor oleh debu. Warna pakaiannya adalah campuran antara jelaga dan lumpur. Sobek, pun kumal. Dia hanya diam, menatap corong gelap yang terbentuk karena reruntuhan dinding yang saling berimpit di hadapannya. Josh bisa mendengar deru napas samar dan juga melihat harap tipis kehidupan.

“Ayah masih di sana.” Gadis kecil itu mencetus, tanpa sedikit pun mencoba menatap sang pemuda yang baru saja menghampirinya tanpa kata. Dicengkeramnya tempurung lutut kuat-kuat, menahan buncah yang memicu bulir bening menitik dari mata jernihnya. “Ayah ada di sana dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Nadanya datar, tetapi begitu penuh pengharapan. Seperti gerimis kecil yang datang diam-diam dan pergi sebelum orang-orang sadar.

Josh meromok, turut bercangkung di sisi gadis itu, menatap ke arah yang sama. “Tenanglah. Ayahmu akan baik-baik saja.”

“Tidak bisakah Paman menolong Ayah juga?” Si Gadis menarik jas biru milik Josh. Biru, bukan hitam seperti yang biasa teman-temannya kenakan. Anak-anak suka langit. Dan Josh menyukai anak-anak. Karena itu dia selalu memakai warna itu setiap kali melaksanakan tugasnya.

“Kautahu aku tidak punya kemampuan itu.” Joshua tersenyum, menyisakan seberkas kesan penyesalan di raut wajah.

“Tapi aku mau menunggu Ayah.” Gadis kecil itu menatap Josh dengan mata jernihnya, menginvasi pikir Josh dengan masa lalu dan bayang masa depan yang pernah tergambar indah di tatapan polosnya.

“Ayah bilang aku harus menunggunya, tidak boleh pergi dulu.”

“Tapi, kau harus berpisah dari ayahmu, Gadis Kecil. Kau harus pergi, sementara ayahmu akan tetap di sini.”

“Apakah ayah akan kesepian?”

“Tentu saja tidak. Dia akan memiliki banyak teman baru. Begitu juga denganmu.”

Gadis itu menunduk. Ibunya sudah pergi lebih dulu beberapa hari sebelumnya, meninggalkan ia dan ayahnya, yang harus terus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain; mencari tempat aman yang terasa begitu mustahil. Dia, harta sekaligus beban bagi ayahnya. Dia, dengan kaki lumpuhnya, yang selalu harus digendong ke mana-mana. Namun, tak sekalipun ayahnya lelah memanggilnya Sayang dan memberinya sejuta kalimat penenang. Jika ini saatnya melepas beban ayahnya, mungkin–

“Baiklah …” Gadis itu berdiri, di atas kakinya, sesuatu yang tak pernah bisa ia lakukan bertahun-tahun sebelumnya. Joshua tahu tugasnya hampir berakhir.

Joshua turut berdiri, lantas melirik ke dalam kegelapan di bawah reruntuhan. Ia bisa merasakan kehidupan yang perlahan kembali ke pemiliknya. Kehidupan lain, bukan kehidupan yang tengah diambilnya. Salah satu dari mereka ditakdirkan mati hari ini. Hanya salah satu.

“Nah, ayo pergi.”

Josh tersenyum, menggandeng tangan mungil Si Gadis Kecil dan membiarkan angin membilas segala jejak keberadaan mereka. Gelap mulai merayap, dan ketika matahari sampai ke titik peristirahatannya, yang tersisa tinggallah isak kecil dari seorang ayah yang baru saja menyadari bahwa jiwa anaknya sudah terpisah dari raga.

Fin.

1484886296200.jpg

Inspired by : The Flowers of War (2011) & war itself

unbetaed dan siapapun yang mau ngasih saran untuk Alternate Universe yang sebaiknya aku gunakan di fic2 selanjutnya boleh banget, ehehe

dan maaf untuk keterlambatan series ini

regards, Ma’ippo

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet – Series] The Dark Lullabies – Wars and Scars

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s