[Ficlet] Eksamen

1483887850071.jpg

Eksamen

2017 © zero404error

17’s Lee Chan

Ficlet (<400 words) || G || AU, crack!School Life

already posted @svtffi ❤

.

Selalu ada satu waktu yang menjadi ujian mental tersendiri bagi setiap orang, tidak terkecuali seorang Lee Chan.

.

Chan langsung bisa menduga bahwa ada yang tidak beres ketika namanya disebut dalam perjalanan santainya melintas koridor sekolah. Seorang pria paruh baya dengan wajah teduh menyambut tolehannya dengan senyuman. Chan lekas mendekat, mengingat biasanya Si Bapak memanggil hanya pada saat-saat darurat (ketika dia lupa mengerjakan PR misalnya, atau tidak sengaja menendang bola hingga memecahkan kaca kelas, atau berbagai kenakalan-kenakalan lain yang antara patut dan tidak patut dilakukan oleh remaja sepertinya).

“Ada … apa, ya, Pak?” Sengaja ia beri jeda di antara ada dan apa; ragu dengan alasan pemanggilannya sendiri. Sedikit gamang, ia beranikan diri untuk menatap gurunya. Ada selisip pilu yang diselip di antara binar mata lelaki paruh baya itu. Bukan jenis yang sering ia temukan. Bisa dibilang itu campuran antara keprihatinan dan kasihan. Terakhir kali Chan melihatnya di mata Sang Bapak adalah ketika ia tidak sengaja melepas ular boa peliharaan Klub Aneka Satwa ke kolam di depan kantor kepala sekolahnya.

Berdebarlah hati Chan. Mungkinkah kali ini kejahatannya sudah kelewatan?

Perlahan, salah satu pria yang dihormatinya itu memegang bahunya.

“Bapak tahu kamu sudah berusaha, Nak ….” Pak Guru berucap, seakan masalah yang dihadapi Chan lebih memerlukan perhatian ketimbang perang nuklir yang mungkin saja tengah direncanakan diam-diam–walau Chan sebenarnya juga tidak tahu usaha macam apa yang dimaksud oleh si bapak. Olimpiade fisika sudah berlangsung puluhan hari yang lalu, dan, yah, terlepas dari usaha belajar Chan yang akhirnya kalah oleh godaan marathon nonton pertandingan sepak bola di TV, Chan masih beruntung bisa masuk tiga besar satu provinsi. Itu bukan hal yang patut disedihkan, kan? Biar sedikit badung dan nakal, begini-begini Chan juga masih punya harga diri sebagai anak berprestasi.

“Tapi ….” Kembali Sang Bapak melanjutkan dialog dramatisnya sementara Chan mencoba mengingat sesuatu yang mungkin bisa membantunya mendapat jawaban. Sayangnya, ingatan Chan sepertinya turut luntur bersama jejak-jejak materi pelajaran yang dia buang seusai tes menuju akhir tahun ajaran.

Eh.

Tunggu.

Ngomong-ngomong tentang akhir tahun ajaran ….

Jangan-jangan–

“… nilaimu turun, Nak.”

Oh, sial! Dugaan Chan benar! Pantas saja perasaanya tidak enak tiga hari belakangan. Habis ujian mata pelajaran, datanglah ujian mental. Kali ini Chan harus siap Ayahnya bakal marah begitu buku rapor sampai di tangan.

~fin.

berdasarkan pengalaman pribadi seseorang yang sengaja didramatisir dan direka ulang tidak sesuai dengan kenyataan, ehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s