[Ficlet-Series] The Dark Lullabies – The Witch’s Fault

picsart_12-26-02.43.44.jpg

Siapa bilang lagu-lagu pengantar tidur selalu berisikan cerita manis dan menghibur?

zero404error © 2016

The Dark Lullabies Series

-The Witch’s Fault-

17’s Yoon Jeonghan

Ficlet (±700 words) || PG 17 || AU, Dark, Fantasy, Tragedy

Previously

Autumn’s Soul

Already posted @svtffi

.

Lelaki muda itu kembali menuruni undakan, menghitung satu demi satu anak tangga yang dilewati, lantas mengetuk-ngetukkan jari di pegangannya yang berpelitur. Sesekali ia melompat-lompat kecil, sesekali ia berhenti untuk berpikir. Kegiatan rutin. Sesuatu yang terus ia ulang setiap kali matahari mulai tergelincir.

Ini adalah undakan berputar kelima dari total tujuh undakan yang ia bangun di suaka megahnya. Tujuh; sesuai angka kesukaan gadisnya. Tujuh; sesuai angka penanggalan yang paling ditakuti oleh warga desa karena dosa-dosa mereka padanya. Tujuh; sesuai angka yang mengingatkan Jeonghan atas semua perlakuan getir mereka. Ya, Jeonghan tidak pernah lupa pada kesalahan-kesalahan kecil mereka, tentu saja. Kesalahan kecil bagi mereka, dan kejahatan besar dalam hitungannya.

Yoon Jeonghan harus terus-menerus menahan gelak tawa yang kini merangsek tanpa suara di bibir tiap kali ia mengingat apa yang pernah mereka lakukan padanya, atau apa yang kini ia balas lakukan terhadap mereka. Wajah-wajah ketakutan itu berdesak-desak memenuhi isi kepalanya. Sosok-sosok putus asa yang terus saja memohon, meronta, meminta hak hidup meski jelas bakal sia-sia. Satu persatu Jeonghan mengambil milik mereka sebagai suvenir balas jasa. Suvenir langka dan satu-satunya. Hadiah-hadiah indah yang pasti gadisnya sukai.

Cukup lama sebelum jalinan langkah Jeonghan beralih dari kayu ke marmer. Tangganya kini sudah habis, berganti dengan hamparan luas bebatuan putih yang nampak suram di bawah cahaya lampu temaram. Ia berjalan dengan tenang menuju ke tengah ruangan, di pusat kandil, tempat di mana kekasihnya menunggu di atas dipan, masih sama seperti sejak terakhir ia tinggalkan; masih terbaring, berbalut gaun satin dan rangkain peony yang sudah mulai kering.

Jeonghan menyeret sebuah bangku ke sisi dipan, melihat wajah pucat gadisnya yang masih tenggelam dalam diam. Ia tersenyum, mengucapkan seuntai halo dan nama cintanya sebelum mengeluarkan hadiah utama berbungkus kain gelap yang sedari tadi ia bawa.

Sepasang tangan dengan cincin berlian di jari manis sebelah kanan.

Ini adalah jemari lentik yang dulu menampar gadisnya di depan semua warga. Jemari yang menjambak rambut kekasihnya, lantas turut menyaksikan kata-kata kotor pun umpatan penuh dusta yang dituduhkan pada seorang gadis tidak berdosa.

“Penyihir! Gadis ini penyihir! Gadis ini terkutuk!”

“Dia harus mati!”

“Bunuh dia!”

Dan kini jemari indah itu begitu tak berdaya tanpa sang pemilik asli.

Jemari. Lengan. Kaki. Kini semuanya tak satu rangkaian lagi.

Jeonghan sama sekali tidak berniat menyia-nyiakan waktu berharganya demi terjebak dalam nostalgia, atau dari siapa saja ia mendapat potongan tubuh lainnya. Dengan cepat ia semua peralatan yang ia perlukan dan mulai bekerja. Jarum, benang, gunting. Tusuk, tarik. Kait demi kait untuk menyatukan sobekan kulit. Tangan dengan lengan. Paha dengan betis. Jari-jemari dengan telapak tangan. Suara gesekan daging dan benang memenuhi segala penjuru ruang. Musik mengalun sesuai tarikan jarum sementara sang tokoh utama kita menggumamkan nada-nada riang, berusaha membuat suasana lebih santai sementara otaknya kembali menyesap kenangan lama.

“Ini semua salah penyihir itu!”

“Bunuh dia!”

“Dia penyebab semua kemalangan di desa kita!”

“Potong kepalanya!”

Hanya beberapa detik. Hanya butuh sekejap waktu saja bagi Jeonghan untuk kehilangan cintanya. Gadis itu dipenggal tepat di depan mata. Tubuhnya diludahi, semua kebaikannya dianggap ampas yang tidak cukup baik untuk menjadi memori. Padahal, Jeonghan-lah sang penyihir yang mereka cari. Jeonghan-lah yang harusnya mati. Harusnya ….

Perlahan, penuh cinta, disusurnya surai kelam gadisnya, menatap bibir pucat yang dulu penuh tawa, juga pipi kucam yang pernah merona setiap kali ia goda.

Tak apa jika tinggal kepalanya yang tersisa. Bukan masalah besar. Jeonghan bisa mencari bagian tubuh lainnya sendiri. Ia bisa mencari bagian tubuh yang terbaik. Semua yang terbaik untuk merangkai kembali tubuh cintanya; membuatnya jadi makhluk paling sempurna. Warga desa tentu tidak akan keberatan kalau penduduknya berkurang barang satu atau dua.

Tidak masalah juga jika semua orang menganggapnya gila. Tidak apa. Jeonghan memang sudah gila. Dia gila sejak seluruh penduduk desa bersekongkol membunuh gadisnya.

“Sebentar lagi, Sayang,” bisiknya pelan. Digenggamnya jemari yang baru ia pasang lantas kembali membisikkan serangkai pesan. “Akan kutemukan jantung yang tepat untukmu.”

“Setelah itu … hanya tinggal waktu supaya kau bisa hidup kembali.”

Dikecupnya kening si gadis lantas bertolak diri. Suara ketukan pangkal sepatunya yang berbentur dengan lapisan kayu menjadi gema di ujung malam, bercampur dengan dendang dan siulan yang selang-seling ia lagukan. Malam sudah datang, saatnya kembali melakukan pembalasan dendam.

Ya, mereka meminta penyihir untuk disalahkan, dan Yoon Jeonghan dengan senang hati membuat ketakutan mereka berubah jadi kenyataan.

~fin.

2f41144457146bad240cb383cb9f8a36.jpg

inspired by Frankenstein & May (2002)

Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet-Series] The Dark Lullabies – The Witch’s Fault

  1. Kereeeen sumpah
    Aku suka AUnya dark lullaby bagus2 terus kerasa bgt gelapnya. Dan ini Mak jeonghan gitu kan terserah deh. Mak jeonghan tu cocok dikasi cerita kyk gini huhuuuu.
    Ditunggu ver minghao sama Seokmin yaaa
    Keep writing!

    1. Li, komenmu bikin aku bingung mau bikin au macam apa lagi orz, serius soalnya au-nya gatau datang dari mana (?)

      Gatau kenapa liat junghan cantik aku bayangannya banyak yang ngiri sama dia, wkwkw trus kok kebayang plot macam gini

      Tengkyuuu, sukimin sama minghao masih bingung mau dikasih au macam apa, waks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s