[Vignette] We Were In Love

1478880433153

We Were In Love

2016 © zero404error

17’s Jeon Wonwoo & a girl

Vignette (±1300 words) || PG || AU, Angst, Romance, Slice of life

already posted here

.

.

Because nothing lasts forever, right?

.

Setitik bunga es embali menyentuh puncak kepalanya, menambah aksen putih di antara helaian kakao basah, terembes oleh salju yang mencair. Jeon Wonwoo memang sengaja tidak berusaha membersihkannya, atau setidaknya mencoba melindungi kepalanya dengan hoodie yang tersampir lemas di punggung. Percuma, pikirnya. Tidak ada fungsinya sama sekali membuat kepalanya terasa lebih hangat ketika apa yang ia perlukan justru kesejukan tak berbatas agar panas tidak serta merta menimbulkan bekas gosong di jiwa.

Ada rasa tak tergambarkan yang kini memenuhi rongga dada seorang Jeon Wonwoo. Puluhan, mungkin jutaan; yang kini membuat napasnya lantas menyesak hingga ia kesulitan menghimpun udara. Langkahnya mendadak goyah. Lututnya kini tersungkur menyentuh tanah. Ditatapnya warna putih yang kini menyelimuti segala jangkau pandang.

Salju tidak pernah terasa begitu menyakitkan di awal pertemuan mereka. Dinginnya mungkin bisa membuat seseorang mati dalam keadaan hipotermia, tapi–Wonwoo ingat dengan jelas–menikmatinya kala itu menjadi bara api tersendiri yang mampu menghidupkan percikan hangat di hati Wonwoo dan gadisnya. Berjalan sejangkah demi sejangkah, tangan saling bertaut, membiarkan keheningan menjadi saksi betapa degupan jantung mereka begitu kentara selayak dentum melodi romantis di rungu mereka sendiri. Tidak perlu ada kata-kata rayuan, kecanggungan adalah lagu tersendiri yang membuat malam-malam yang mereka lewati terasa lebih hangat ketimbang perapian rumah seberang.

Dulu.

Yang sekarang hanya terlihat sebagai bayang semu.

Atau …. Mungkinkah sejak awal segalanya memang semu?

.

“Kamu tidak menyangkalnya.”

Sepasang netra Wonwoo mengunci gerak-gerik gadis di hadapannya, mengikuti ke arah manapun gadis itu mengarak langkah sementara yang ditatap masih sibuk mencoba mencari tatakan yang pas untuk disandingkan dengan cangkir miliknya.

Pukul delapan malam. Belum ada tiga puluh menit sejak si gadis menemukan Wonwoo menantinya di depan pintu dengan kondisi nyaris beku, dan belum ada lima belas menit sejak si gadis menawarinya cokelat hangat, tetapi sudah hampir puluhan pertanyaan Wonwoo lontarkan demi memenuhi kuriositas yang berada di ambang batas kesabaran.

“Haruskah?” Gadisnya balik bertanya dengan ujung kepala yang menyembul di balik minibar dapur. Denting beling dan derit kayu yang terdengar secara acak mengiringi percakapan mereka. Sosok mungilnya timbul tenggelam. “Kamu sudah tahu semuanya, Wonwoo-ya. Haruskah aku menyangkalnya?”

Belati kejujuran menikam Wonwoo dengan hebat lewat serangkai kata yang terlontar tanpa beban dari katup bibir gadisnya; menembus jiwanya dengan luka tipis namun begitu mengiris. Sungguh, kalau saja gadis itu memoles nada dan romannya dengan rasa bersalah–meski hanya dusta belaka–Wonwoo dengan senang hati akan menerima kebohongannya. Sayangnya, gadis itu bukan–dan tidak pernah menjadi pembohong ulung. Ia hanya penyimpan rahasia yang begitu terampil.

Lekas, si penyimpan rahasia itu berdiri tegak, kedua tangan ada di pinggang. “Duh, di mana sih aku terakhir meletakkannya ….” Si gadis berkemam, menggaruk-garuk bagian belakang kepala yang tak gatal.

“Rak nomor tiga dari kanan, pojok kiri bawah.” Wonwoo menggumam singkat. Dengungannya sudah mirip layanan mesin penjawab otomatis, sesuatu yang keluar tanpa sadar karena ia sudah terlampau terbiasa melakukannya. Iya, gadisnya memang begitu ceroboh dan pelupa, berbeda dengan Wonwoo yang selalu tertata dan ingat segalanya.

“Ah, ketemu. Thanks.”

Tatakan kini beradu dengan dasar cangkir. Gemercik, denting. Samar-samar Wonwoo mendengar suara gelas yang dituangi air. Sementara si gadis mulai mengaduk ramuan yang konon katanya bisa membuat perasaan lebih bahagia (yang Wonwoo tidak yakin apakah saat ini semua itu ada gunanya), Wonwoo mengalihkan pandang. Padahal belum lama sejak kedatangannya terakhir ke sini, tapi entah kenapa segalanya terasa begitu asing. Masih benda-benda yang dikenali oleh matanya, tapi bukan benda yang ia ketahui segala kenangannya.

Mantel musim dingin si gadis yang tersampir di punggung sofa, misalnya. Alih-alih kenangan indah saat mereka bersama, yang muncul justru sekelebat bayang dua sosok manusia yang berdiam di bangku taman senja lalu. Sepasang muda-mudi. Sepasang tangan yang saling menggenggam, lalu suara yang teredam. Mereka hanya diam, saling menggenggam, tetapi Wonwoo tahu, apa yang mereka ungkap selama diam, terasa lebih dalam dari puluhan pembicaraan.

“Tenang saja, kami sudah sepakat untuk tidak bertemu lagi.”

Wonwoo menoleh, mendapati si gadis kini berjalan ke arahnya. Dua cangkir besar dengan asap tipis mengepul di kedua tangan. Aroma kakao menyebar ke seluruh ruang.

“Aku tidak peduli,” kilah Wonwoo datar. Jika gadis itu begitu pintar menyimpan rahasia, maka Wonwoo begitu ahli dalam menyembunyikan apa yang ia rasa. Mungkin itulah kebodohannya. Dia tak pernah berbagi terlalu banyak emosi sehingga orang yang ia anggap dekat pun sering salah mengerti.

“Kamu peduli, dan aku tahu itu.” Si gadis tersenyum, meletakkan kedua cangkir di atas meja dan duduk di sisi yang berseberangan dengan Wonwoo. “Kamu tidak ingin tanya kenapa?” Ia mengaduk cairan gelap di cangkirnya, berhenti di putaran kelima.

Wonwoo melirik ke arahnya, menghela napas. “Kenapa?”

Dua pasang manik gelap saling bertemu. Seulas senyum kembali disungging di bibir tipis bergincu. “Karena jika aku memilihnya dan melepasmu saat ini, mungkin aku akan melarikan diri dengan melepasnya juga suatu saat nanti.”

Dengusan kasar menjadi satu-satunya reaksi yang Wonwoo berikan. Sekiranya, ia masih enggan menyela kalimat per kalimat yang si gadis sampaikan. Jadi, dia hanya menyeruput cokelatnya tanpa banyak kata. Manis, pahit, panas. Lidahnya nyaris mati rasa. Kombinasi yang bagus untuk malam seperti ini. Manis seperti kisah yang pernah terjalin di antara mereka, pahit seperti pengkhianatan yang ada, dan panas seperti bara yang kini membakar amarahnya. Lalu, mati rasa seperti perasaan gadisnya pada dirinya.

Mati rasa …. Iya. Padahal dulu, siapa yang begitu berapi-api mencintai? Gadis itu yang bilang menyukainya lebih dulu. Gadis itu juga yang bilang tak apa kalau Wonwoo tidak memiliki perasaan yang sama. Ia berjanji tidak akan meninggalkannya. Naif; dan Wonwoo menerimanya begitu saja, atas dasar rasa suka yang sebenarnya sudah ia sembunyikan sejak lama.

“Aku ingin dia tetap bahagia meski pahit pernah menjadi kenangan di antara kami berdua.”

Gadisnya ingin pria itu bahagia, bukan Wonwoo. Padahal dulu, dia bilang asalkan Wonwoo bahagia, ia akan ikut bahagia. Dasar pendusta.

“Sejak awal keluargamu tidak pernah merestui kita, Wonwoo-ya. Orang tuamu tidak suka padaku dan aku sama sekali tidak bisa membaca perasaanmu. Terkadang di satu waktu kamu memberiku harapan, tetapi di waktu lain semua itu terasa seperti angan samar.”

Jemari gadis itu kini mengelus pinggiran cangkirnya. Tatapannya melanglang entah ke dimensi mana. Ujung bibirnya menyudut kurva, tetapi tidak ada kegembiraan yang terlukis di sana.,

“Kamu tahu?” Ia membuang napas, mengumpulkan jejak-jejak ingatannya yang tercecer. “Aku pernah berharap apa yang kulihat pada dirimu itu cinta.” Dengusan lagi. “Tapi, perlahan aku tahu … itu hanya khayalanku. Kamu begitu dingin dan tak acuh. Selamanya mungkin akan begitu–jika denganku.”

“Kurasa aku sudah terlalu lelah, Wonwoo-ya. Aku bukan lagi gadis kecil yang bebas melenggang tanpa dilema. Aku berubah, begitu pun kamu. Dulu aku begitu mencintaimu, sekarang aku tidak tahu perasaan macam apa itu.”

“Kalau kamu ingin pergi dariku saat ini, tak apa. Aku tak akan menyimpan dendam dan kuharap kamu pun tidak. Tapi, kalau kamu masih ingin aku di sini, mungkin kita hanya perlu sama-sama belajar. Aku belajar kembali mencintaimu, sementara kamu belajar untuk melepasku.”

Wonwoo melukis kurva miring, menahan letupan emosi yang nyaris merobohkan dinding kesabarannya. Jika ia mengumpulkan seribu kata “jika” dan membuat seribu alasan untuk tetap bersama, ia tidak tahu lagi demi kepuasan siapa sebenarnya. Wonwoo pikir, tak apa baginya untuk tetap diam, menyimpan perasaan tanpa harus selalu ditampakkan. Wonwoo pikir, gadis itu akan bisa memahami diamnya dan bukannya menghakimi. Namun, pada akhirnya, gadis ini sama saja dengan ribuan orang lain di luar sana, yang melihat sosok dingin Wonwoo tanpa bisa menembus ke dalam lubuk terdalamnya.

Sebuah liontin yang mengendap dalam saku ia biarkan tenggelam di sudut jahitan. Hadiah yang pada akhirnya tidak pernah berpindah tangan. Harusnya, salah satu malam bersalju di bulan Desember menjadi momen indah mereka, mungkin sedikit cengkrama, bertukar hadiah, dan mengingat kenangan lama beberapa tahun sebelumnya. Namun, apa artinya semua itu sekarang? Dia berusaha mencinta walau tidak kentara, dan dia yang lain, kini begitu acuh meski dulu cintanyalah yang begitu kentara.

Mungkin … cinta memang pernah ada.

Dulu.

Tersangkut begitu jauh di masa lalu.

~fin.

draft lama yang akhirnya ketulis juga ;_;, maap ini belibet ceritanya

Tengkyu buat mb becca sama suhil atas kritik sarannya

terima kasih sudah mau membaca 🙂

-maippo-

Advertisements

One thought on “[Vignette] We Were In Love

  1. wah ada namaku. hai mak.

    ((KRG AJAR BGT BARU KOMEN EWKWKWKWKWKWKWKWWK))

    apa ya….. karena udah baca duluan skrg jd bingung mau komen apa ((dihajar)). ceritanya nggak belibet kok…. btw, aku gatau kenapa kok suka pas ww ngasih tau cewenya letak raknya masa, keknya in real life he seems like a very detailed person gitu huhu :” ((LHA KOK MALAH BAPER)). terus ya aku tidak paham kenapa ini puitis bgt, yg paragraf2 awal juga HHHHHHHHHHHHH. ww jg kalo macarin cewe yg pasti donk!!!!! sm aku aja gmn!!!!!!!!!

    biarkan aku keliling2 bentar mak ok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s