Rumput Tetangga

picsart_11-17-12-30-42

Katanya, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.

pic source : Pinterest

.

Aku tahu suatu saat nanti kamu pasti akan ke sini: bibir mengerucut, langkah begitu tergesa. Segera kamu letakkan tas kerja di manapun ruang kosong masih ada (yang aku yakin begitu susah kamu temukan karena kebiasaanku yang jauh dari kata rapi dan tertata) lalu mulai melepas sepatu dan atribut-atribut kantor. Dengan ujung kemeja yang tergulung hingga siku, kamu ambil selang yang terlantar di bawah keran lantas mengomel patah-patah, tentang perjalanan yang begitu panjang untuk sampai ke sini, tentang begitu sibuknya dirimu tetapi masih coba meluangkan waktu, tentang apa yang seharusnya kulakukan, juga tentang petuah-petuah moral.

Di tengah-tengah gerutuan, ketika rerumputan sudah basah semua oleh tetes air yang kamu hujankan, kamu akan duduk di sampingku, melepas lelah, menyeka bulir-bulir keringat yang mulai berjatuhan, lantas menghela napas. Alis nyaris menyatu, raut mengeras seperti batu. Mukamu memang selalu masam kalau bersamaku, dicampur dengan gurat-gurat lelah sisa beban kerja, juga calon kerutan-kerutan akibat omelan yang sama sejak pertemuan kita bermula. Akan tetapi, aku tidak pernah keberatan. Aku tahu ekspresimu hanyalah cangkang, yang tidak mampu menyembunyikan kehangatan pun kebaikan di sanubari terdalam.

“Rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau kalau kamu hanya berdiam diri, Ra, terlalu takjub pada keindahan milik mereka lantas menelantarkan apa yang sudah kamu miliki.” Kamu meletakkan selang–sedikit melemparnya, membiarkan air yang mengucur dari ujungnya mencipta genangan lumpur di tanah. Aku tidak menjawab. Kubayangkan bahwa cacing-cacing penyubur di bawah tanah ini tengah berpesta. Ini salah satu hari-hari yang mereka tunggu dengan suka cita. Tanah kering mereka kini basah. Basah, basah, basah hingga pori mereka lembab dan harapan hidup kembali ada.

“Dengar tidak, sih, Ra?”

Kudengar kamu bertanya, sedikit memaksa, mungkin merasa kehilangan kuasa, karena pikiranku tampak jalan-jalan di alam lain sana. Segera aku menjeling, mengangguk-angguk. Aku selalu mendengarmu, Sayang, selalu. Tenang saja.

Nada-nada yang keluar dari mulutmu memang jarang ramah, selalu dan selalu ketus mirip cabai ranum yang tinggal tunggu meletus. Akan tetapi, aku tidak pernah keberatan mendengar apapun yang kamu katakan. Meski kadang menyakitkan, aku tahu di setiap hurufnya terselip niat baik untukku dan masa depan. Pun, suaramu sudah seperti candu, sepahit apapun, akan terasa bagai madu untukku.

“Padahal kamu punya potensi merubah kebun ini jadi sewarna pelangi. Kenapa malah sibuk mengagumi milik orang lain dan membiarkan tanahnya perlahan mati?”

Lagi dan lagi. Kamu selalu lupa kapan saatnya berhenti. Dan lagi-lagi, aku hanya diam, mengiyakan apa yang kamu katakan sambil sesekali menyelip senyuman. Padahal, aku tahu kamu salah. Aku membiarkan halamanku tetap gersang bukan karena sibuk mengurus punya orang. Namun, karena aku tahu … hanya dengan begitu kamu mau datang.

~fin.

Advertisements

9 thoughts on “Rumput Tetangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s