[Ficlet-Mix] Toska

wp-1476049268229.jpegToska

2016 © jejeauurd & zero404error

17’s DK, Dino, Joshua, Jun

Ficlet mix (±300 words) || PG 15+ || AU, Slice of life, Family, Dark, Angst, Comedy, Friendship School life, History

Prompt source : pinterest

already posted in svtffindo

Some stories don’t have a happy ending

.

[DK x Yoon Ave; slight! GFriend Yuju]

44aaa78a0ab719f879badfba75acc12a.jpg

Yoon Ave jatuh hati, hal yang lumrah dirasa oleh sebagian besar gadis seusianya kala menginjak usia sembilan belas. Yoon Ave berbunga-bunga hatinya, merupakan ciri yang wajar ketika gadis manis—setidaknya, ibunya masih mengakuinya begitu—seperti dirinya terjebak dalam kisah kasmaran anak ingusan.

Semuanya berawal dari kali pertama ia berjumpa dengan Seokmin. Tetangga sekaligus temannya di sekolah. Lee Seokmin adalah sosok laki-laki bertubuh proporsional, multitalenta, dan luar biasa ramahnya. Terlepas dari bagaimana rupawan serta baiknya perangai Seokmin, hati Ave terpikat. Pun kegilaan yang sering pemuda itu tunjukkan tanpa kenal malu.

Ave tak pernah menaruh harap lebih padanya. Tak sekali pun Ave menuntut balas atas perasaannya. Cukup berada di dekat Seokmin, berbincang singkat, terjebak konversasi tengah malam lantaran insomnia menyerang, menyelesaikan tugas bersama atau hanya bertegur sapa, semua terasa sudah cukup.

Jarum detik pada jam dinding bergeser ke arah kiri seperti biasanya, tiap sekon terlewati tanpa sunyi melingkupi. Mestinya ini kegiatan normal yang—tampaknya—sudah menjadi rutinitas Ave kala Seokmin bertandang ke rumahnya. Namun, kali ini menjadi pengecualian.

“Ayolah, pinjamkan sebentar saja.” Ave terdiam, matanya menatap lekat sosok Seokmin di ambang pintu kamarnya. Bungkamnya gadis itu pertanda bahwa dirinya tengah menikmati gejolak aneh yang ada dalam dada.

“Besok sore sudah kupastikan novelmu ada di rak buku, janji!” gadis itu mengangguk mantap. Tangannya menyerahkan sebuah novel genre romansa klasik yang baru ia beli tiga hari lalu bersama Seokmin.

“Jika Yuna menerima buku pinjamanmu, berarti sahabatmu ini tak akan jadi lajang setidaknya sampai hari kelulusan datang. Thanks, ya!”

Mereguk ludah pasrah, Ave tersenyum kecut selepas Seokmin mencubit pipinya sekilas. Lantas ia melenggang pergi bersama separuh hati Ave yang redam. Jika pada lembaran ini, jatuh hati pada seorang Lee Seokmin yang notabenenya sudah memiliki tambatan hati adalah salah, maka harusnya Yoon Ave muncul pada lembar yang lain. Atau mungkin pada kisah cinta yang baru, kepada lembaran hati yang tak bertuan.

.

[Joshua x Twice’s Myoui Mina]

d8eb60d75009400870690ab31266be9f.jpg

Hong Jisoo tak pernah tahu perihal jatuh hati, dimana, dengan siapa, pun waktunya. Sesuatu yang disebut rasa itu datang begitu saja, membelokkan alur perahu nasib, lantas menjebol dinding kapalnya dengan arus deras tiada terkira. Begitu cepat, begitu tidak terduga. Sadar-sadar, Jisoo sudah nyaris tenggelam, kehabisan napas, mencoba menggapai udara sekadar untuk pengisi rongga dada, tetapi percuma.

Myoui Mina mungkin bukan gadis tercantik yang pernah ada. Akan tetapi, bagi Hong Jisoo, keberadaannya merupakan imaji paling sempurna. Senyum si gadis, aroma tubuhnya, kikik manis yang lepas dari bibir mungilnya, lembut sentuhan tangannya ketika mereka berlari menyusur padang rumput di atas gunung sana, merupakan keping-keping kenangan yang dirangkai indah tanpa cacat di otak Jisoo.

Hong Jisoo mencintai Myoui Mina, begitu pula sebaliknya.

“Hong Jisoo, kau ditangkap atas tuduhan mengorganisir pemberontakan terhadap kekaisaran!”

Namun, sayang, mereka hidup di zaman ketika hubungan pribumi Korea dan Jepang ditentang oleh kedua negara–mereka yang merasa terjajah dan menganggap kolonialis mereka sampah, pun mereka yang tidak ingin darah keturunannya tercampur dengan darah yang mereka jajah. Pemberontak dengan putri bangsawan. Rakyat biasa dengan keturunan penguasa. Semua hanya mampu sebatas asa yang menguap begitu senja tiba.

Aduan palsu dilayangkan, teriakan pun perlawanan menjadi saksi bisu di penghujung malam. Jisoo diseret paksa menuju penjara terakhirnya sementara Mina dipaksa menyaksikan eksekusi mati sang kekasih keesokan paginya.

Myoui Mina dan Hong Jisoo mungkin ditakdirkan untuk saling mencinta, tapi tidak untuk saling memiliki selamanya.

.

[Dino x OMG’s Arin; slight! NCT’s Mark]

892c73afd53f5e4b8d6013e38f91a9d9.jpg

Semilir angin memainkan anak rambutnya. Seraya guguran daun hijau di tanah. Senyum atau tawanya mengalihkan fokusku hingga tertuju seratus persen padanya. Sinar hangat mentari berpendar ke segala penjuru, menerangi tempat kami berpijak. Tapi entah kenapa sorot mata gadis di depanku lebih terang ketimbang cahaya matahari.

Kami berlari ke pantai, bertelanjang kaki. Membiarkan bulir-bulir pasir bergesekkan dengan kulit ari. Dia masih menggenggam tanganku, mengisi celah kosong dengan jari-jari lentiknya. Kami bersenandung bersama sembari berayun pada ayunan tua.

Sesekali kuusap rambut legamnya yang terjuntai apik, jatuh di punggung. Man, tanpa perlu disisir, rambutnya sudah rapi—lebih dari model iklan shampoo di teve.Rasanya damai begitu siulan burung di atas sana ditambah deburan ombak terdengar di runguku. Kami melontar canda, berbagi kehangatan dari tautan tangan atau sekadar menatap netra.

“Aku menyayangimu, tanpa paksaan dan kebohongan.” Ucapnya spontan setelah aku melayangkan agresi gelitikan jari di tengkuknya. Percayalah, kami sama-sama sibuk hingga tidak akan ada hari seperti ini lagi nantinya. Jadi biarkan saja aku menikmati momen ini berdua dengannya. Yeah, hanya berdu—

Oy, Chan!”

Sialan. Itu suara Mark, siswa pindahan dari Kanada yang rankingnya belum pernah turun satu kali pun di kelas paralel. Terpaksa kulepas headset yang menyumbat kedua lubang telinga. Menyisakan ekspresi tolol terpampang jelas sehingga membuat dia menahan tawa macam kucing mual.

“Kenapa?” Ia menggeleng, tangannya beralih ke bahuku, menepuk pelan tiga kali sambil berujar, “Ketahuilah, kupikir kaupunya cukup nyali untuk mengajak Yewon kencan besok,” kuangkat satu alis tinggi-tinggi, maksudnya, bro?

Mate, nyatanya kaukeduluan sama Kak Moonbin, sabar ya,”

Kupandangi lekat-lekat Yewon yang tengah berkelakar bersama anak gadis lainnya dua meja di depan.

Faktanya, aku memendam rasa pada Yewon. Masalahnya, info basi (yang sialnya pasti akurat) dari Mark adalah penyebabnya. Solusinya, kupejamkan mata lekat-lekat, menikmati alunan Home is In Your Eyes punya Greyson Chance sambil membayangkan mengahbiskan waktu berdua. Dengan Yewon saja.

.

[Jun]

3e29599be3a04b2ec90215778f740ce4.jpg

Selalu ada satu hari di mana ia merasa lelah dengan segala yang ia punya. Hidupnya, apa yang menjadi destinasinya selama ini, segala pencapaian, juga jutaan gelak tawa yang ia paksakan lolos dari pita suara.

Selalu ada satu masa di mana Wen Junhui menatap dunia dari sudut-sudut pandang tergelapnya, menolak keberadaan cahaya, lantas membiarkan segala prasangka berbaur, membuat segala sisi positif mati terkubur.

Dia ada di sini, tetapi bukan jiwanya. Dia tertawa, tetapi bukan dari hatinya. Dia bergaul, tetapi hanya sebatas basa-basi, mencoba mengisi apa yang kosong dan tak pernah terpenuhi. Bukan salah siapa pun jika semua itu membuat orang lain salah paham. Bahwa kebahagiaan adalah hal mutlak miliknya dan permasalahan tidak pernah menjadi beban hidupnya. Ia menunjukkan kepada dunia hanya topengnya, dan dunia menerima semua dengan begitu mudahnya.

Tadinya, Jun sempat berharap bahwa senyumnya akan berhenti menjadi dusta. Akan ada seseorang yang mampu menembus kegelapan manik kelamnya, menemukan sosoknya yang kesepian lalu merengkuhnya dalam pelukan. Namun, dalamnya hati bukanlah sesuatu yang mudah diselami, bahkan oleh orang terdekat sekali pun. Tidak pernah ada yang menyadari retakan-retakan kecil yang pelan-pelan menggerus segala aspek optimisnya.

Wen Junhui memejamkan mata, melesakkan udara malam yang dingin ke paru-paru. Sepucuk surat yang ia tulis sudah terlipat rapi di atas meja. Sengaja diletakkan di tempat yang mudah terlihat; untuk sahabatnya, kedua orang tuanya, serta seorang gadis yang diam-diam menarik perhatiannya di atas bus sekolah.

Dia kembali menarik napas.

Mungkin bakal ada banyak pertanyaan dari orang-orang terdekat atas keputusannya. Mengapa? Bagaimana bisa? Tidakkah ada yang menyadari tanda-tandanya sejak lama? Namun, Jun tak lagi peduli. Pikirannya terlalu gelap untuk menemukan harapan di esok hari. Satu-satunya yang ia inginkan sekarang hanyalah menarik pelatuk yang tertahan oleh gemetar jemari lantas segera mengakhiri semua ini.

Dor!

-fin.

645339

terima kasih sudah mau membaca 🙂

Regards

je&maippo

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s